Aside: Jurnal: MANAJEMEN PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN SUPERVISI

Jurnal: MANAJEMEN

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN SUPERVISI TERHADAP KINERJA GURU (jamaluddin)

  1. Latar Belakang

Rendahnya kualitas sumber daya manusia merupakan masalah mendasar yang dapat menghambat pembangunan dan perkembangan ekonomi nasional. Penataan sumber daya manusia perlu diupayakan secara bertahap dan berkesinambungan melalui sistem pendidikan yang berkualitas baik pada jalur pendidikan formal, informal, maupun non formal, mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi (Mulyasa, 2004:4). Dikatakan lebih lanjut oleh Mulyasa tentang pentingnya pengembangan sistem pendidikan yang berkualitas perlu lebih ditekankan, karena berbagai indikator menunjukkan bahwa pendidikan yang ada belum mampu menghasilkan sumber daya sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kebutuhan pembangunan.
(Sardiman, 2005:125) mengemukakan guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan. Oleh karena itu, guru yang merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan harus berperan secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang.

Guru tidak semata-mata sebagai pengajar yang melakukan transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai pendidik yang melakukan transfer nilai-nilai sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan pengarahan dan menuntun siswa dalam belajar. Hal ini diamanatkan dalam UU No 14 tahun 2005, tentang guru dan dosen “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah”. Guru merupakan elemen kunci dalam sistem pendidikan, khususnya di sekolah. Semua komponen lain, mulai dari kurikulum yang mutakhir, sarana-prasarana yang canggih, pembiayaan yang memadai, dan sebagainya tidak akan banyak memberikan arti terhadap kualitas pendidikan apabila esensi pembelajaran yang sesunggguhnya yaitu interaksi guru dengan peserta didik tidak berkualitas. Semua komponen lain, terutama kurikulum akan “hidup” apabila dilaksanakan oleh guru.

Begitu pentingnya peran guru dalam mentransformasikan input-input pendidikan, sampai-sampai banyak pakar menyatakan bahwa di sekolah tidak akan ada perubahan atau peningkatan kualitas tanpa adanya perubahan dan peningkatan kualitas guru. Sayangnya, dalam kultur masyarakat Indonesia sampai saat ini pekerjaan guru masih cukup tertutup. Bahkan atasan guru seperti kepala sekolah dan pengawas sekalipun tidak mudah untuk mendapatkan data dan mengamati realitas keseharian performance guru di hadapan siswa. Memang program kunjungan kelas oleh kepala sekolah atau pengawas tidak mungkin ditolak oleh guru. Akan tetapi, tidak jarang terjadi guru berusaha menampakkan kinerja terbaiknya baik pada aspek perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran hanya pada saat dikunjungi. Selanjutnya ia akan kembali bekerja seperti sedia kala, kadang tanpa persiapan yang matang serta tanpa semangat dan antusiasme yang tinggi.

Berdasarkan laporan Balitbang Depdiknas tahun 2002, dari 1.054.859 guru SD di Indonesia ternyata hanya sekitar 30% yang layak mengajar dikelas dihadapan para siswa dan yang selebihnya tidak layak. Untuk guru SLTP, SMU, dan SMK angkanya hampir sama. (pra survey). Dari data tersebut di atas menunjukkan bahwa kinerja guru belum optimal.

Karena guru diposisikan sebagai garda terdepan dan posisi sentral di dalam pelaksanaan proses pendidikan maka guru akan menjadi bahan permasalahan terutama yang berkaitan dengan kinerja guru tersebut.

Kinerja guru akan bermakna jika selalu menyadari akan kekurangan yang ada pada dirinya, dan berupaya untuk meningkatkan kinerjanya ke arah yang lebih baik, sehingga kinerja guru yang dilakukan sekarang akan lebih baik dari kinerja guru kemarin. Untuk itu, kinerja guru harus selalu ditingkatkan, terutama guru Sekolah Dasar yang merupakan peletak dasar pendidikan formal yang pertama bagi anak.

Banyak hal yang turut mempengaruhi kinerja guru, di luar dari kompentensi guru itu sendiri. Hal-hal tersebut antara lain: kepemimpinan kepala sekolah dan pelaksanaan fungsi pengawasan pendidikan/supervisi, baik yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pengawasan interen maupun yang dilakukan oleh pengawas sekolah sebagai supervisor. Untuk mengatasi masalah belum optimalnya kinerja guru, maka penerapan kepemimpinan transformasional dan pelaksanaan supervisi merupakan solusi untuk meningkatkan kinerja guru.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sutermeister (Mulyasa, 2002:117) menyimpulkan bahwa ada beberapa faktor determinan terhadap produktivitas kerja antara lain iklim kepemimpinan (leadership climate), tipe kepemimpinan (type of leadership), dan pemimpin (leaders). (Mulyasa, 2002:118) juga menyimpulkan bahwa gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap kinerja pegawai untuk meningkatkan produktivitas kerja demi mencapai tujuan. Di sisi lain, hasil penelitian (Sumanto, 2005) menyimpulkan bahwa: gaya kepemimpinan tidak berpengaruh terhadap kinerja guru. Demikian halnya hasil penelitian (Siahaan, Jeriko 2009) menyimpulkan kepemimpinan transformasional tidak berpengaruh terhadap prestasi kerja pegawai Namun demikian diyakini bahwa penerapan kepemimpinan transformasional berpengaruh terhadap kinerja guru, hal tersebut didukung oleh pendapat para ahli/teori dan data empiris berupa hasil penelitian.

Hasil penelitian Rosenholtz (Permadi, Dadi, 2001:5) menyimpulkan bahwa peranan manajemen menentukan hampir lebih 1/3 dari hasil belajar, bahkan penelitian yang dilakukan terhadap 33 SD di satu kecamatan menghasilkan temuan bahwa faktor kepemimpinan kepala sekolah memberi kontribusi berarti bagi peningkatan hasil belajar dan kestabilan perolehan hasil belajar yang merupakan buah dari kinerja guru yang abik .

(Iksan Rumtini, 2002: 5) dalam penelitiannya tentang Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah SLTP dan Korelasinya denganManajemen Instruksional di Beberapa Sekolah di Yogyakarta, mengungkapkan bahwa keberhasilan tenaga pendidikan dan tenaga administratif dalam melaksanakan tanggung jawabnya tidak akan lepas dari berbagai faktor, salah satunya adalah gaya kepemimpinan dan motivasi kepala sekolah. Dalam hal ini, gaya kepemimpinan yang dimaksud adalah style yang diterapkan dalam suatu kegiatan guna membangkitkan motivasi atau semangat orang lain dengan jalan memberikan inspirasi, sehingga dapat mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Oleh karena itu kepemimpinan kepala sekolah merupakan faktor penting dalam menentukan kinerja guru.

Pentingnya peran kepala sekolah sebagai pemimpin di lembaga pendidikan sudah banyak dibuktikan oleh para ahli pendidikan, salah satunya adalah (Mulyasa, 2002:118) yang mengatakan bahwa kepemimpinan (kepala sekolah) sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pegawai dan produktivitas, sehingga dapat mendorong untuk pencapaian tujuan organisasi. Namun masih sering terjadi distorsi kepemimpinan Kepala Sekolah Dasar oleh guru-guru yang beberapa di antaranya berakhir dengan pemberhentian kepala sekolah dari jabatannya. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan seorang kepala sekolah menempatkan dirinya sebagai seorang pemimpin.

Banyak di antara kepala sekolah cenderung bertindak sebagai seorang manajer ketimbang sebagai seorang pemimpin. Kepala sekolah umumnya berpikir bagaimana mengerjakan sesuatu dengan benar, dan jarang ada yang berpikir bagaimana menentukan sesuatu yang benar untuk dikerjakan. Padahal seorang kepala sekolah dituntut untuk berpikir dan melahirkan gagasan-gagasan dalam rangka implementasi manajemen berbasis sekolah (MBS).

Salah satu fungsi manajerial yang dilakukan oleh kepala sekolah adalah fungsi pengawasan/supervisi atau disebut juga fungsi pengendalian. Kegiatan pengawasan/supervisi patut dilaksanakan oleh Kepala Sekolah karena hal itu merupakan salah satu fungsi atau proses manajemen yang wajib diimplentasikan secara nyata di sekolah. Sesuai dengan hakikatnya, kegiatan pengawasan/supervisi yang dilaksanakan oleh kepala sekolah merupakan kegiatan balikan untuk mengidentifikasi secara jelas apakah hasil yang dicapai konsisten atau tidak konsisten dengan hasil yang diharapkan dalam rencana serta penyimpangan yang terjadi di dalam pelaksanaan suatu program sekolah. Nampak di sini bahwa ada kegiatan operasional yang terkandung dalam hakikat pengawasan tersebut yaitu terdapat upaya peningkatan dan perbaikan kinerja guru.

Dari penjelasan di atas, nampak bahwa hasil yang maksimal di suatu sekolah, ditentukan oleh kualitas penguasaan bidang pengawasan/supervisi dan dedikasi yang tinggi dari para guru di sekolah tersebut. Dan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas akademik dan semangat mengabdi dari para guru di suatu sekolah adalah melalui kegiatan pengawasan/supervisi yang dilakukan secara terus menerus oleh kepala sekolah.

Kenyataan di lapangan (di sekolah) pungsi pengawasan/supervisi belum dilaksanakan secara profesional sesuai dengan hakikat pengawasan/supervisi itu sendiri. Pengawasan/supervisi dilaksanakan hanya secara insidental ketika hendak membuat laporan, untuk kebutuhan sesaat tanpa ada tindak lanjut dari hasil pengawasan. Demikian halnya supervisi yang dilakukan oleh pengawas satuan pendidikan belum sepenuhnya terlaksana sesuai dengan Permen Diknas No.12 tahun 2007 yang menyatakan bahwa beban tugas pengawas ekuivalen 24 jam pelajaran per minggu. Bahkan ada kesan pengawasan ditekankan pada akhir kegiatan proses pendidikan, misalnya pada saat ujian akhir di sekolah. Memang hal itu penting, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah pengawasan pada saat proses dilaksanakan untuk mengetahui apakah proses yang dilaksanakan sudah sesuai dengan perencanaan. Jika tidak, apa masalahnya, kemudian ditentukan solusinya. Dari uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengungkap tentang Pengaruh Kepemimpinan Transformasional, dan Supervisi terhadap Kinerja Guru SD di Kecamatan Kendari Barat.

  1. Kerangka Konseptual

Kepemimpinan transformasional merupakan faktor yang paling penting dalam menunjang tercapainya tujuan organisasi termasuk sekolah. Keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola kantor, mengelola Kerangka berpikir dalam penelitian ini dibangun berdasarkan masalah, tujuan, kajian teoritis dan empirik sebagai landasan untuk merumuskan hipotesis. Penelitian ini diawali dari studi teoritik yang mengkaji teori yang relevan dengan kajian studi ini yaitu: teori tentang kepemimpinan transpormasional, pengawasan/supervisi dan kinerja guru.

sarana prasarana sekolah, membina guru, atau mengelola kegiatan sekolah lainnya banyak ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah. Apabila kepala sekolah mampu menggerakkan, membimbing, dan mengarahkan anggota secara tepat, segala kegiatan yang ada dalam organisasi sekolah akan bisa terlaksana secara efektif. Sebaliknya, bila tidak bisa menggerakkan anggota secara efektif, tidak akan bisa mencapai tujuan secara optimal.

Salah satu tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor, yaitu mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan. Jika kepala sekolah sebagai supervisor dapat melakukan tugas, fungsi dan tanggung jawabnya dengan baik melaksanakan supervisi pendidikan secara efektif dan profesional maka logikanya pemberian supervisi oleh kepala sekolah akan meningkatkan kinerja guru.

Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa terdapat pengaruh antara kepemimpinan dan pengawasan/supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru.

Merujuk pada analisa teori dan konsep-konsep yang telah dikemukakan di atas bahwa kepemimpinan transformasional dalam aspek perilakunya mengindikasikan adanya perubahan dengan melakukan terobosan-terobosan baru ke arah perkembangan yang lebih baik. Dalam suatu organisasi munculnya perubahan tersebut adalah bersumber dari pemimpin sebagai penggagas visi perubahan.

Kepemimpinan transformasional adalah kemampuan seorang pemimpin dalam bekerja bersama atau melalui orang lain (pengikut) untuk mentransformasikan (mengubah) sumber daya organisasi secara optimal dalam rangka pencapaian tujuan yang telah dirumuskan bersama.

Kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu memilih dan menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat untuk mencapai visi organisasi yang telah ditetapkan secara bersama. Keteladanan, kebersamaan dan keberanian untuk melakukan terobosan baru merupakan ciri dari kepemimpinan transformasional harus nampak dengan jelas di dalam diri kepala sekolah serta diwujudkan secara nyata dengan mengajak semua guru dan staf bekerja secara maksimal demi pencapaian tujuan organisasi.

Indikator perilaku kepemimpinan transformasional dapat diukur dari indikator-indikator: karisma,pertimbangan individual, dan stimulasi intelektual. karisma adalah prilaku yang menghasilkan rasa hormat (respect) dan rasa percaya diri (trust) dari orang-orang yang dipimpinnya, pertimbangan individual adalah pemimpin yang mereplesikan prilaku selalu mendengarkan dengan penuh perhatian dan memberikan perhatian khusus terhadap kebutuhan prestasi dan kebutuhan orang-orang yang dipimpinnya, dan stimulasi intelektual adalah pemimpin yang senantiasa menggali ide-ide baru dan solusi yang kreatif dari orang-orang yang dipimpinnya.

Supervisi adalah “suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif”.

Jadi supervisi kepala sekolah merupakan upaya seorang kepala sekolah dalam pembinaan guru agar guru dapat meningkatkan kualitas mengajarnya melalui langkah-langkah perencanaan, penampilan mengajar yang nyata serta mengadakan perubahan dengan cara yang rasional dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa.

Indikator penilaian pelaksanaan supervisi adalah: 1. merencanakan program supervisi, kegiatan ini terdiri dari: merumuskan tujuan dan teknik supervisi pembelajaran, menyusun program supervisi, menyususn instrument dan jadwal supervisi pembelajaran. 2. melaksanakan program supervisi, kegiatannya meliputi: melaksanakan program supervisi pembelajaran, membimbing guru dan siswa, mengajarkan wawasan/pengetahuan baru, melaksanakan umpan balik dari hasil supervisi, serta mendokumentasikan hasil supervisi.3. menindaklanjuti program supervisi, kegiatan ini terdiri dari: menyususn rencana program tindak lanjut, mensosialisasikan hasil supervisi kepada guru-guru.

Kinerja guru mempunyai spesifikasi/kriteria tertentu. Kinerja guru dapat dilihat dan diukur berdasarkan spesifikasi/kriteria kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, dijelaskan bahwa Standar Kompetensi Guru dikembangkan secara utuh dari 4 kompetensi utama, yaitu: (1) kompetensi pedagogik, (2) kepribadian, (3) sosial, dan (4) profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru.

Berkaitan dengan kinerja guru, wujud perilaku yang dimaksud adalah kegiatan guru dalam proses pembelajaran yaitu bagaimana seorang guru merencanakan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, dan menilai hasil belajar. 1. Perencanaan Program Kegiatan Pembelajaran. Tahap perencanaan dalam kegiatan pembelajaran adalah tahap yang berhubungan dengan kemampuan guru menguasai bahan ajar. Kemampuan guru dapat dilihat dari cara atau proses penyusunan program kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, yaitu mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

2. Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran. Kegiatan pembelajaran di kelas adalah inti penyelenggaraan pendidikan yang ditandai oleh adanya kegiatan pengelolaan kelas, penggunaan media dan sumber belajar, dan penggunaan metode serta strategi pembejaran. Semua tugas tersebut merupakan tugas dan tanggung jawab guru yang secara optimal dalam pelaksanaanya menuntut kemampuan guru. Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran komponen yang perlu dinilai adalah: pengelolaan kelas, penggunaan media dan sumber belajar, penggunaan metode pembelajaran.

3. Evaluasi/Penilaian Pembelajaran. Penilaian hasil belajar adalah kegiatan atau cara yang ditujukan untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran dan juga proses pembelajaran yang telah dilakukan. Pada tahp ini seorang guru dituntut memiliki kemampuan dalam menentukan pendekatan dan cara-cara evaluasi, penyusunan alat-alat evaluasi, melaksanakan evaluasi, mengelola hasil evaluasi, melaporkan hasil evaluasi, melaksanakan program remedial/perbaikan pengajaran.

C. Hipotesis

Berdasarkan kerangka berpikir sebagaimana diuraikan di atas, maka dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

  1. Kepemimpinan transformasional berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru SD Negeri di Kecamatan Kendari Barat.

  2. Supervisi berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru SD Negeri di Kecamatan Kendari Barat.

  1. Populasi dan Sampel

  1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono, 2007:80) atau merupakan sasaran yang menjadi objek penelitian. (Sudjana, 2001:6) menjelaskan bahwa totalitas semua nilai yang mungkin, hasil menghitung ataupun pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya.

Sekolah Dasar yang berada di wilayah kecamatan Kendari Barat berjumlah 24 SD, terdiri dari 21 SD Negeri dan 3 SD Swasta. Yang dijadikan populasi dalam penelitian ini hanya guru SD Negeri dengan jumlah guru 155 orang (KUPTD Diknas Kecamatan Kendari Barat , Maret 2011), yang terdiri dari: 23 orang Laki-laki. dan 132 orang Perempuan.

  1. Sampel.

(Arikunto, Suharsimi, 2004: 117) Sampel adalah bagian dari populasi (sebagian atau wakil populasi yang diteliti). Menurut (Sugiyono, 2007: 91). Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh popualsi tersebut. Dari pengertian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti.

Jumlah sampel penelitian adalah sebanyak 112 responden dari populasi 155 orang guru SD se kecamatan Kendari Barat. Jumlah sampel (size of samples) ditentukan berdasarkan pada perhitungan dari rumus Slovindengan tingkat kesalahan yang ditoleransi sebesar 5%.

  1. Analisis faktor konfirmatori(comfirmatory factor analysis) Analisis ini berguna untuk menunjukkan bagaimana tingkat kecocokan atau kesesuaian validitas dan reliabilitas dari indikator atau dimensi penelitian dalam mengukur konstruk, atau dengan kata lain analisis ini menggambarkan berapa besar setiap indikator atau dimensi dalam model mampu menjelaskan kontruk atau variabel laten. Kriteria pengujiannya adalah memperhatikan nilai probabilitas (p) dari nilai koefisien lamda (λ). Jika nilai p lebih kecil dari nilai α (0,05), maka indikator atau dimensi tersebut dapat digunakan untuk membentuk konstruk yang diukur. Dengan kata lain bahwa nilai lamda (λ) digunakan untuk menilai kecocokan dari indiator atau dimensi.

  1. Analisis model structural (structural model analysis)

Analisis model struktur merupakan model analisis yang menjelaskan hubungan kausal antara variabel konstruk. Pengujian hipotesis merupakan pengujian hubungan kausal antara konstruk dalam penelitian ini, setelah uji asumsi SEM dan uji kesesuaian model serta uji konfirmatori faktor konstruk dilakukan.

Untuk menguji hubungan kausalitas yang telah dikembangkan, atau untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan cara membandingkan nilai probability dari suatu hubungan kausalitas dengan nilai α = 0,05. Jika nilai probability dari suatu hubungan kausalitas ≤ nilai α = 0,05, maka hipotesis yang diajukan dapat diterima, sebaliknya jika nilai probability dari suatu hubungan kausalitas ≥ nilai α = 0,05, maka hipotesis yang diajukan tidak dapat diterima atau ditolak.

  1. Pengaruh kepemimpinan transformasio- nal terhadap kinerja guru.

Hipotesis satu (H1) menyatakan bahwa “kepemimpinan transformasional berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru sekolah dasar Kecamatan Kendari Barat”. Hasil analisa pada tabel 5. 18 menunjukkan bahwa koefisien jalur pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap kinerja guru adalah sebesar 0,96 (96 %) dengan signifikansi atau probabilitas 0,00. Karena nilai probabilitas 0,00 < 0,05 maka hipotesis satu (H1) dapat diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan transformasional berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru sekolah dasar di Kecamatan Kendari Barat.

  1. Pengaruh supervisi terhadap kinerja guru

Hipotesis dua (H2) menyatakan bahwa “supervisi berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru sekolah dasar Kecamatan Kendari Barat”. Hasil analisis pada tabel 5.18 menunjukkan bahwa koefisien jalur pengaruh supervisi terhadap kinerja guru adalah sebesar 0,86 (86 %) dengan signifikansi atau probabilitas 0,00. Karena nilai probabilitas 0,00 < 0,05 maka hipotesis dua (H2) dapat diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa supervisi berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru sekolah dasar di Kecamatan Kendari Barat.

  1. Pengaruh kepemimpinan transformasio- nal terhadap kinerja guru.

Hipotesis satu (H1) menyatakan bahwa “kepemimpinan transformasional berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru sekolah dasar Kecamatan Kendari Barat”. Hasil analisa pada tabel 5. 18 menunjukkan bahwa koefisien jalur pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap kinerja guru adalah sebesar 0,96 (96 %) dengan signifikansi atau probabilitas 0,00. Karena nilai probabilitas 0,00 < 0,05 maka hipotesis satu (H1) dapat diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan transformasional berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru sekolah dasar di Kecamatan Kendari Barat.

  1. Pengaruh supervisi terhadap kinerja guru

Hipotesis dua (H2) menyatakan bahwa “supervisi berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru sekolah dasar Kecamatan Kendari Barat”. Hasil analisis pada tabel 5.18 menunjukkan bahwa koefisien jalur pengaruh supervisi terhadap kinerja guru adalah sebesar 0,86 (86 %) dengan signifikansi atau probabilitas 0,00. Karena nilai probabilitas 0,00 < 0,05 maka hipotesis dua (H2) dapat diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa supervisi berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru sekolah dasar di Kecamatan Kendari Barat.

  1. Saran

Dari kesimpulan yang telah dijelaskan, maka saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk lebih mengefektifkan pelaksanaan kepemimpinan transformasional, maka aspek

keteladanan dan kejujuran harus menjadi perhatian utama, karena keteladanan dan kejujuran bila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh akan melahirkan kewibawaan. Keteladanan dan kejujuran yang dimaksud adalah menyatunya antara kata dan perbuatan. Jika menginginkan bawahan melakukan sesuatu, maka pemimpin harus lebih dulu melakukan hal tersebut. Selain itu aspek stimuli intelektual perlu menjadi fokus perhatian bagi seorang kepala sekolah dasar di Kecamatan Kendari Barat, karena terbukti indikator stimuli intelektual yang paling kuat membentuk variabel kepemimpinan transformasional.

  1. Hendaknya pelaksanaan supervisi didasari oleh perencanaan yang matang, sehingga jelas tujuan dan sasarannya. Dan hasil-hasil supervisi hendaknya selalu ditindaklanjuti agar setiap permasalahan yang ditemukan dalam kegiatan pembelajaran dapat diselesaikan, sehingga dapat meningkatkan kinerja guru-guru SD di Kecamatan Kendari Barat.

  2. DAFTAR PUSTAKA

  3. Alhadza, 2002, Pengaruh Motivasi Berprestasi dan Perilaku Komunikasi Antar- pribadi

  4. terhadap Efektifitas Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jurnal Pendidikan Nomor 40, September 2002.

  5. Ametembun, N. A, 1993. Supervisi Pendidikan. Rosda Karya, Bandung.

  6. Andjar, Prijatni, 2010. Pengaruh Supervisi, Kompensasi, Iklim Kerja, Kepuasan Kerja dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Guru. Disertasi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang, Semarang.

  7. Arikunto, Suharsimi, 2004. Prosedur Penelitian Suatu Praktek. Rajawali Press, Jakarta.

  8. Bafadal, 1992. Supervisi Pengajaran, Teori dan Aplikasinya dalam Membina Profesionalisme Guru. Bumi Aksara, Jakarta.

  9. Balitbang, 2003. Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah. Depdiknas, Jakarta.

  10. Bass, B.M, 1985. Leadership and performance beyond expectation. Free Press, New York.

  11. Burns, J.M, 1978. Leadership. Harper & Row, New York.

  12. Danin, Sudarwan, 2004. Motivasi Kepemimpinan dan Efektif Kelompok. Rineka Cipta, Jakarta.

  13. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994. Petunjuk Pelaksanaan Supervisi Pendidikan di Sekolah. Jakarta.

  14. Dubrin, 2005. Leadership. Edisi Terjemahan, Prenada Media, Jakarta.

  15. Ghozali, Imam, .2006. Aplikasi Structural Equation Modeling, Metode Alternatif dengan Partial Least Square (PLS). Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

  16. Hair, JF, Anderson and RE Tatham, RL, 1998. Multivariate Analysis. 5 Edition, Prentice Hall International, Inc.

  17. Hamalik, Oemar, 2002. Pendidikan Guru. Bumi Aksara, Jakarta.

  18. Handoko, T. H dan Tjiptono, F, 1996. Kepemimpinan Transformasional dan Pemberdayaan. BPFE, Yokyakarta.

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s